Hukum Melangsungkan Pernikahan Beda Agama Dalam Alquran

Hukum Melangsungkan Pernikahan Beda Agama Dalam Alquran

            Indonesia memang merupaka negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim, tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan tentang terjadinya pernikahan beda agama yang sering terjadi di Indonesia. Ya, memang pernikahan beda agama ini sering menjadi polemik dan hal yang dianggap menyimpang baik secara agama maupun hukum.

            Sebenarnya didalam agama seperti didalam Alquran sudah dijelaskan mengenai hukum menikah beda agama tersebut. Tetapi pada kenyataanya aturan dan ketetapan yang jelas tersebut masih sering diabaikan oleh beberapa orang yang tetap ingin melangsungkan pernikahan dengan pasangan yang berbeda keyakinan.

            Sebagai umat muslim yang baik sudah seharusnya kita mengetahui dan mematuhi aturan – aturan tantang pernikahan yang diatur didalam Alquran tersebut. Tetapi untuk anda yang belum mengetahui tentang hukum tersebut anda bisa membaca landasan – landasan yang bersumber dari Alquran berikut ini.

  1. Larangan menikah beda agama dijelaskan dalam surat Al Baqarah

“Wa lā tangkiḥul-musyrikāti ḥattā yu`minn, wa la`amatum mu`minatun khairum mim musyrikatiw walau a’jabatkum, wa lā tungkiḥul-musyrikīna ḥattā yu`minụ, wa la’abdum mu`minun khairum mim musyrikiw walau a’jabakum, ulā`ika yad’ụna ilan-nāri wallāhu yad’ū ilal-jannati wal-magfirati bi`iżnih, wa yubayyinu āyātihī lin-nāsi la’allahum yatażakkarụn” 

Didalam alquran surat Al Baqarah ayat 221 dijelaskan bahwa Allah SWT melarang untuk melakukan pernikahan beda agama, namun memang dalam ayat tersebut larangan tersebut masih belum mutlak tentang penjelasan mengapa pernikahan tersebut diharamkan.

  1. Larangan menikah beda agama dalam surat Al Maidah

 “Al-yauma uḥilla lakumuṭ-ṭayyibāt, wa ṭa’āmullażīna ụtul-kitāba ḥillul lakum wa ṭa’āmukum ḥillul lahum wal-muḥṣanātu minal-mu`mināti wal-muḥṣanātu minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum iżā ātaitumụhunna ujụrahunna muḥṣinīna gaira musāfiḥīna wa lā muttakhiżī akhdān, wa may yakfur bil-īmāni fa qad ḥabiṭa ‘amaluhụ wa huwa fil-ākhirati minal-khasirin.

Dalam Alquran surat Al Maidah ayat 5 terdapat ayat yang menyinggung tentang pernikahan beda agama. Berdasarkan kandungan didalam ayat tersebut dapat diketahui bahwa sebenarnya pernikahan beda agama diperbolehkan dengan syarat salah satu pihak harus rela meninggalkan agam yang ia peluk dan belajar untuk menjadi seorang muslim yang baik.

  1. Larangan menikah beda agama dalam surat Al Mumtahanah

“yā ayyuhallażīna āmanū iżā jā`akumul-mu`minātu muhājirātin famtaḥinụhunn, allāhu a’lamu bi`īmānihinna fa in ‘alimtumụhunna mu`minātin fa lā tarji’ụhunna ilal-kuffār, lā hunna ḥillul lahum wa lā hum yaḥillụna lahunn, wa ātụhum mā anfaqụ, wa lā junāḥa ‘alaikum an tangkiḥụhunna iżā ātaitumụhunna ujụrahunn, wa lā tumsikụ bi’iṣamil-kawāfiri was`alụ mā anfaqtum walyas`alụ mā anfaqụ, żālikum ḥukmullāh, yaḥkumu bainakum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

Dalam Alquran surat Al Mumtahanan ayat 10 dijelaskan bahwa haram hukumnya jika seorang muslim menikah dengan orang kafir. Didalam ayat tersebut menceritakan tentang bagaimana pada zaman dahulu banyak pasangan yang memiliki perbedaan keyakinan dan sungguh sebenarnya mereka itu haram satu sama lain selama melaksanakan pernikahan tersebut.

Berdasarkan penjelasan dan juga hukum – hukum pernikahan yang ada didalam alquran sudah dapat diketahui bahwa pernikahan beda agama itu dilarang dan diharamkan. Pernikahan tersebut tidak akan membawa keberkahan karena yang dialakukannya sejak awal juga sudah merupakan suatu kesalahan.

Untuk itu kepada perempuan atau laki – laki yang sedang mencari pasangan agar selalu berhati – hati dan sebaiknya sudah mengetahui latar belakang dari orang yang akan dijadikan pasangan tersebut agar pernikahan yang dijalani tersebut akan bernilai ibadah untuk kedua belah pihak, aamiin yaa rabbal alamin.